Kamis, 28 Februari 2013

TUMBUHAN DAN HEWAN LANGKA



BAHAN AJAR 2

B. TUMBUHAN DAN HEWAN LANGKA
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan jenis-jenis hewan dan tumbuhan. Kekayaan ini tidak ternilai harganya. Jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan terus berkembang biak. Hal ini menyebabkan tumbuhan dan hewan dapat dijadikan sebagai sumber daya alam yang potensial.
Berbagai jenis hewan dan tumbuhan di atas dapat kita manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan. Bagian-bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat-obatan, hiasan, dan bahan bangunan. Hewan pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, dimanfaatkan tenaganya, dan diambil bagian tubuhnya sebagai bahan obat.
Begitu banyak manfaat yang dapat kita ambil dari kekayaan hewan dan tumbuhan. Akan tetapi, karena pemanfaatan yang kurang bijaksana dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman makhluk hidup. Bahkan beberapa jenis hewan dan tumbuhan sudah mulai langka. Makhluk hidup dapat digolongkan langka apabila makhluk hidup tersebut jumlahnya tinggal sedikit dan sangat sulit ditemui.

1. Tumbuhan Langka yang Dilindungi oleh Pemerintah Indonesia
Tumbuhan langka yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia antara lain sebagai berikut:

a.  Bunga Raflesia (Rafflesia Arnoldi)
Bunga Raflesia memiliki beberapa sisik pada permukaannya, batangnya sangat pendek, dan hanya ada satu bunga yang tumbuh sangat besar dibandingkan ukuran batangnya. Bunga Raflesia yang terdapat di Bengkulu merupakan bunga terbesar di dunia, dan dinobatkan sebagai Puspa Langka pada tahun 1991.







b. Cendana (Santalun album)
 Cendana menjadi tumbuhan yang dilindungi, karena tumbuhan ini hampir punah disebabkan oleh manusia yang memanfaatkan kayu dan minyak atsiri  yang dihasilkan oleh tumbuhan cendana tersebut.



c. Anggrek hitam (Coelogyne pandurata)
 Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) adalah spesies anggrek yang hanya tumbuh di pulau Kalimantan. Anggrek hitam adalah maskot flora propinsi Kalimantan Timur. Saat ini, habitat asli anggrek hitam mengalami penurunan jumlah yang cukup besar karena semakin menyusutnya luas hutan di Kalimantan namun masih bisa ditemukan di cagar alam Kersik Luway dalam jumlah yang sedikit. Diperkirakan jumlah yang lebih banyak berada di tangan para kolektor anggrek.










2.  Hewan yang Dilindungi oleh Pemerintah Indonesia
Hewan langka yang dilindungi pemerintah Indonesia antara lain seperti tertulis pada tabel di bawah ini:
Tekanan pemanfaatan habitat hutan yang sangat cepat mengancam kekayaan margasatwa Indonesia. Sisa habitat alami makin kecil dan terasing, sehingga jenis margasatwa setempat cenderung punah. Berikut ini merupakan sebagian dari hewan langka tersebut:

a. Harimau Sumatra
Harimau Sumatra mungkin satu-satunya yang masih hidup dari suku harimau setelah harimau Bali dan harimau Jawa punah. Harimau Bali dan harimau Jawa telah punah karena perburuan dan hilangnya habitat secara terus-menerus menjadi penyebab utama kepunahan hewan ini. Adapun faktor lain penyebab kepunahan, yaitu permintaan kulit harimau secara tetap.



b. Orangutan
Orangutan dapat diselamatkan dari ujung kepunahan dengan penghentian perburuan gelap dan melindungi luas daerah habitat hutan yang sesuai. Pada tahun 1994 Menteri Kehutanan menyetujui program penyelamatan orangutan yang secara garis besar diperlukan untuk melanjutkan usaha melindungi jenis ini dan habitatnya.






c. Gajah Sumatra
Saat ini jumlah gajah di Indonesia makin berkurang. Salah satu penyebabnya adalah pembukaan hutan untuk keperluan hidup manusia. Pembukaan hutan dataran rendah secara luas mengakibatkan gajah (Elephas maximus) berada dalam kawasan yang lebih kecil dan makin mengecil di Indonesia. Masalah gajah hanya dapat diatasi dengan upaya sungguh-sungguh, meningkatkan daerah perlindungan dan bekerja sama dengan masyarakat.





d. Badak Jawa dan Sumatra
Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan hewan darat terbesar kedua di Indonesia. Di samping itu masih ada badak Sumatra (Dicerorhinus Sumatrensis) yang merupakan badak terkecil yang masih hidup, beratnya hanya satu ton. Penurunan jumlah yang tajam untuk kedua jenis badak sebagian besar karena hilangnya hutan dataran rendah dan perburuan.





e. Jalak Bali
Ancaman kepunahan jalak Bali makin bertambah dengan kerusakan habitat. Ancaman lain adanya perburuan yang berlebihan untuk perdagangan burung, mengingat harga burung ini di pasaran mencapai puluhan juta rupiah setiap ekornya.


Kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan bergantung pada keberadaan habitat alam. Kebanyakan daerah perlindungan diciptakan karena adanya jenis tumbuhan dan hewan yang bersifat langka. Keberadaan makhluk hidup langka, jika populasinya makin sedikit akan terancam kepunahan.
Kepunahan suatu spesies makhluk hidup atau kerusakan tumbuhan dan hewan disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor bencana alam dan faktor manusia.





1.  Faktor Bencana Alam
Bencana alam contohnya gempa bumi, angin ribut, banjir, letusan gunung berapi, atau tsunami. Bencana ini tidak bisa dihindari karena tidak dapat diprediksi kapan datangnya, namun dapat diketahui gejalanya. Kita tidak dapatmeniadakan bencana alam, tetapi dapat mengurangi akibat buruk yang ditimbulkannya.

2.  Faktor Manusia
Alam memiliki bagian yang hidup dari jasad renik, tumbuhan dan hewan termasuk manusia. Secara alami, makhluk hidup akan berkembang menuju pada keadaan yang beraneka ragam. Namun manusia di dalam menjalankan kegiatan hidupnya sering membuat aturan atau tindakan yang bertentangan dengan keadaan alamyang semestinya atau tidak bertanggung jawab. Tindakan-tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab tersebut antara lain:
a.    Perburuan hewan liar di hutan yang lambat laun dapat menyebabkan kepunahan hewan tersebut.
b.    Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan racun, mengakibatkan organisme lain yang ada di sungai atau laut tersebut akan ikut mati.
c.    Penggundulan hutan, gunung dan bukit menyebabkan bencana alam seperti banjir dan erosi.
d.   Pengikisan plasma nutfah. Hal ini dapat terjadi karena terdesaknya bibit tanaman tradisional oleh bibit unggul dari luar, contohnya jambu lokal terdesak oleh jambu bangkok. Di samping desakan dari luar, bibit tradisional dapat menghilang karena habitatnya digunakan untuk pembangunan fisik seperti banyak areal pertanian yang dulu luas menghijau berubah menjadi perumahan, pabrik, sekolah, jalan, dan lain-lain.


BACA INFO:
Bunga Nasional Indonesia


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar